MATERI KULIAH
EKONOMI DAN BISNIS INTERNASIONAL I
Apakah Ekonomi Internasional itu ?
Ekonomi
Internasional menggunakan metode-metode analisis dasar yang sama
seperti yang digunakan oleh cabang-cabang ilmu ekonomi lain, karena
motif dan prilaku individu-individu dan perusahaan-perusahaan dalam
perdagagan internasional persis sama dengan yang kita temui dalam
transaksi-transaksi perdagangan domestic (local).
Ekonomi
internasional mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan
“hubungan ekonomi” antara satu negara dengan negara lain. Perkataan
“hubungan ekonomi” di sini mencakup paling tidak tiga bentuk hubungan
yang berbeda, meskipun antara satu dengan yang lain saling berkaitan.
Pertama,
“hubungan ekonomi” bisa berupa pertukaran hasil atau output negara satu
dengan negara lain. Sebagai contoh, Indonesia mengekspor minyak, kayu,
karet, hasil kerajinan, menjual jasa angkutan penerbangan Garuda dan
jasa turisme kepada orang asing, dan mengimpor beras, gandum, bijih
besi, bahan plastik, benang tenun, jasa angkutan laut dan angkutan udara
dan jasa turisme (misalnya, package tour bagi orang Indonesia ke
Singapura, Hongkong dan sebagainya). Hubungan semacam dikenal sebagai
hubungan perdagangan. Perhatikan bahwa yang dimaksud dengan “output”
termasuk di dalamnya output “barang” dan output “jasa”.
Kedua,
hubungan ekonomi bisa berbentuk pertukaran atau aliran sarana produksi
(atau faktor produksi). Termasuk dalam kelompok sarana produksi adalah
tenaga kerja, modal, teknoogi dan kewiraswastaan. Sarana produksi bisa
“mengalir” dari satu negara ke negara lain karena berbagai sebab,
misalnya karena imbalan yang lebih tinggi, karena lewat program bantuan
luar negeri, dan karena adanya faktor “ketakutan” (misalnya* ancaman
perang, takut dinasionalisasi, takut adanya devaluasi atau karena
menghindari inflasi yang terlalu tinggi di suatu negara). Sarana
produksi “tanah” merupakan satu-satunya sarana produksi yang tidak bisa
mengalir ke negara lain, karena sifatnya yang terikat pada lokasinya.
Tetapi bahkan” “tanah” pun tidak mutlak terikat pada lokasinya, bila
kita ingat bahwa definisi dari sarana produksi “tanah” mencakup kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya.
Kita
mengekspor bijih nikel, bijih tembaga dan barang-barang tambang
lainnya. Di sini kita bisa mempertanyakan apakah barang ekspor ini lebih
bersifat “faktor produksi” ataukah “output”. Tetapi ini memang sesuatu
yang masih bisa diperdebatkan: dari satu segi bijih nikel atau bijih
tembaga bisa dipandang sebagai output, tetapi dari segi lain bisa
dianggap sebagai faktor produksi. Sebaliknya, tenaga kerja atau
“manusia” yang pada hakekatnya lebih bersifat mobil dan tak terikat
lokasi, seringkali justru menjadi suatu faktor produksi yang tidak bisa
(atau tidak selalu bisa) mengalir dari satu negara ke negara lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar