Your 1:1 Traffic Exchange
EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

Minggu, 06 Mei 2012

Kisah Kegigihan Bocah Cacat Pemecah Batu



Kehidupan sardi memang tak seperti anak-anak lain, indahnya masa kecil tak dapat ia rasakan. Bagaimana tidak, kondisi fisiknya berbeda. Bocah 10 tahun ini rela berkorban, ia memilih terlambat masuk sekolah demi menunggu iwan sang adik. Sardi justru bergantung pada sang adik, karna sang adiklah yang akan membantunya membawa tas ke sekolah. Kedua orang tua sardi tidak bisa mengantar Sardi ke sekolah.

Alhamdulillah ada iwan saya berterima kasih, kalau ndak ada iwan nggak kebayang,"tutur sardi.

Seumur sardi seharusnya sudah duduk di kelas 4 sekolah dasar, lantaran terlambat masuk sekolah sardi baru kelas 2 SD. Pagi itu saatnya jam pelajaran olah raga, sardi memang tidak memiliki seragam olahraga seperti anak-anak lain yang mampu, tak mengapa meskipun begitu sardi tak berkecil hati. Bel yang berbunyi selalu di sambut riuh para murid, karna sudah pasti bel yang berbunyi adalah pertanda dimulainya jam olahraga. Sayang... Bagi sardi bel ini justru mengingatkan anak kekurangan fisiknya, ia tak bisa mengikuti kegiatan senam pagi seperti teman-teman sekolah.

Kakinya yang tak sama panjang ini ia terima sejak lahir, jangankan mengikuti kegiatan senam, berjalan pun sardi merasa kesulitan. Keinginannya untuk bisa bermain bola dan berjalan secara normal harus ia pendam pasrah.... dengan ikhlas sardi berusaha menerima kenyataan dan membuang rasa gundah.

Pengen bisa main bola kayak orang lain, pengen bisa jalan tapi gimana lagi, soalnya sudah kayak gini," tutur Sardi.

Beruntung derita yang ia alami tak membuat anak lainnya menjauhi sardi, masih ada 2 temannya yang masih setia menemani sardi. Kedua sahabatnya ini biasa membantu sardi untuk kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Sardi boleh saja cacat fisik, tapi sardi tergolong murid pintar dan rajin.

Kalau di dalam kelas si sardi itu ya, anaknya baik, piter, berprestasi. kalau kelas 1 dia ringking 2, kalau semerter 2 naik ke kelas 2 ya, dia rangking 4, terus di kelas duanya semester 1 dia rangking 5," tutur guru sardi.

Pulang sekolah menjadi perjuangan berat seorang sardi, jarak yang jauh dari rumah ke sekolah, harus ia tempuh sedtiap hari. Tak hanya itu, jalan yang terjal dan berbukit harus ia hadapi, belum lagi beban batin atas kondisinya. Sering kali teman sekolahnya justru mencemooh kondisi sardi

Suka di ejekin sama teman-teman, si sardi mah buntung," tutur sardi.

Entahlah apa jadinya bila tak ada iwan sang adik, perjalanan sepanjang 2 kilo membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kaki dan tangannya sering merasa pegal, itulah sebabnya, sardi dan iwan harus sering berhenti untuk istirahat.

Bekal makanan dari sang bunda, menjadi pengganjal perut yang mujarap, bukti kasih sang bunda kepada sardi dan iwan. Meski hanya dengan lauk garam dan cabe rawit saja, maklum sang bunda tak punya uang untuk membeli lauk yang layak. Sardi dan iwan bersyukur, setidaknya mereka masih bertemu dengan nasi.

Suka dibekelin dimakan di jalan kalau lagi capek sambil istirahat, sholat terus nyamperin emak memecah batu." tutur Sardi

Bukannya pulang ke rumah," Sardi dan iwan harus bekerja membantu sang ibu, sejak pagi tadi sang ibu telah lebih dulu memcah batu. Jalan setapak yang dilalui tak mudah, di sungai kecil inilah sang  bunda dan adik bungsunya bekerja mengais rejeki.

Rasa letih dan lelah tak dihiraukan, hanya semangat yang bisa membuat sardi bertahan bekerja hingga senja nanti.

Pulang sekolah mandi, sholat dhuhur, berangkat ke lokasi memecah batu, sedih kasihan ke emak ndak ada pekerjaan yang lain, cuma memecah batu."ujar sardi.

Kampung Cikadongdong, Desa Cikesik Banten selatan ini memang bukit yang berlimpah batu, membawa berkah tersendiri bagi keluarga sardi untuk mengumpulkan sedikit rupiah. Bagaimana tidak, setiap batu yang terpecah harus dikumpulkan hingga mencapai jumlah tertentu. Biasanya batu-batu ini baru bisa di jual setelah terkumpul 3 meter kubik, itu artinya akan ada 150 ribu untuk bertaha hidup hingga 1 bulan. Bahkan jika tidak ada pembeli kelurga sardi bisa menunggu hingga berbulan-bulan.

Rusnah dan anak-anaknya memang harus ikut berjuang mencari tambahan mencukupi kebutuhan hidup. Kini mereka hanya tinggal berdoa, akankah ada yang akan membeli bongkahan batu hasil mereka. Sebuah doa yang tak akan pernah putus untuk merajut harapan dari batu.

Hidup dengan kedua kaki yang tak sempurna, tak akan menjadi mimpi buruk seumur hidup bagi sardi. Kedua orang tuanya selalu mengajarkan untuk tabah menerima kehendak yang kuasa. Berbagai hinaan akan kondisinya ia pasrahkan pada yang kuasa, tak akan ia biarkan merusak nyali dan cita-citanya untuk maju.

Pernah Putus asa," kalau sudah besar pengen beli kaki palsu, malu, suka ada yang ngejekin, di tontonin," ujar sardi.

Ditengah keterbatasan fisiknya, sardi berusaha keras mengejar mimpinya untuk menjadi seorang guru. Ia yakin Tuhan maha penyayang, tak pilih kasih memberikan ujian, sekaligus ganjaran dari sebuah ketidak sempurnaan fisiknya


Kehidupan Sardi memang tidak seperti kebanyakan anaka-anak lain, indahnya hidup tak dapat ia rasakan lantaran cacat kaki yang ia harus terima. Bocah cacat ini punya semangat tinggi, walaupun ia telat masuk sekolah lantaran ia harus menunggu adiknya Iwan masuk sekolah juga, ia adalah anak yang pintar. Sebagai anak yang berbakti, ia membantu ibunya menjadi pemecah batu. Garis kehidupan yang serba kekurangan menjadi semangat buatnya.

Tidak ada komentar: